Butir Mutiara ke-3, Benih Jenis Apa di Ladang Bisnis Anda?
PS: Teman-teman, kami pindah yaaa…ke alamat baru kami di:
http://www.keluarganobel.com
Saya sedang ngebet main Farmville di Facebook, nih..jadi tetangga saya, yuk!
Ngomong-ngomong, permainan ini memberikan inspirasi, loh. Ayo, kalau sudah pernah main Farmville pasti gampang klik dg inspirasi yang saya bagikan ini.
Benih yang ditabur di tanah Farmville menentukan berapa besar panen yang diperoleh dan berapa coin yang kita peroleh..hmm..hard cash, siapa sih yang ga suka hard cash?
Lahan Farmville ibarat ladang usaha yang kita kelola. Benih yang ditabur sekarang menentukan panen selanjutnya.
Nah, benih apa sih yang sudah ditabur di ladang usaha sehingga kita berani berharap PANEN YANG BESAR? Benih kejujurankah? Disiplin? Kreativitas? Kemurahan hati? Ataukah benih pola pikir serba instan telah memasuki dan mempengaruhi pola pikir kita dalam menjalankan bisnis? Pola pikir instan adalah racun yang menyamar untuk merasuki proses “Lebih Cepat, Lebih Baik”.
“Lebih Cepat, Lebih Baik” yang ideal adalah proses yang tidak melewatkan ilmu yang perlu dipelajari melalui anak-anak tangga pengalaman dan ilmu sepanjang jalan menuju puncak kesuksesan. Sementara “pola berpikir instan” adalah berpikir cepat sampai ke tujuan, sebagai contoh: ingin cepat kaya, ingin cepat lulus. “Pola berpikir instan” selalu ingin menghindari anak-anak tangga pengalaman dan ilmu menuju puncak kesuksesan dan cenderung mencari gondola seadanya menuju puncak kesuksesan. Pikirnya, “Pokoknya cepat sampai di puncak kesuksesan, setelah itu bagaimana nanti, deh”. Dampaknya, sukses memang dapat diraih secara cepat tetapi kualitas kesuksesan tersebut patut dipertanyakan. Kesuksesan tipe ini sangat berbahaya, karena mengarah kepada kehancuran.
Ada biografi seseorang yang menarik perhatian, Nelson Tansu, seorang profesor termuda di Amerika Serikat. Nelson Tansu meraih gelar profesor di usia 30 tahun dan yang lebih membanggakan, Nelson Tansu orang Indonesia, lho. Apakah salah dalam usia secepat itu mendapatkan gelar profesor? Tidak, ini tipe “Lebih Cepat, Lebih Baik” yang berkualitas. Semua ilmu untuk meraih gelar itu dapat diserap secara cepat, lebih cepat dari kebanyakan orang. Kualitas kesuksesan Nelson Tansu ditempuh dengan melalui anak-anak tangga yang memang seharusnya dilalui untuk mendapatkan kualifikasi sebagai seorang profesor, hanya saja, Nelson Tansu mempunyai kapasitas otak yang membawanya menempuh waktu yang lebih singkat dari kebanyakan orang.
Akhirnya, semua pilihan kembali ke masing-masing individu. Jalan manakah yang ingin ditempuh menuju puncak kesuksesan?
